Translate
Saturday, 22 July 2023
BERKAH SHOLAT SUBUH
Kisah Nuaiman, Sahabat Paling Usil tapi Selalu Bikin Rasul Tertawa
Rasulullah SAW dikelilingi oleh para sahabatnya dengan karakteristik yang beragam. Ada yang dikenal tegas dan keras seperti Umar bin Khattab, pun sahabat yang dikenal pemalu yakni Utsman bin Affan. Namun, ada juga sahabat terdekat Rasulullah yang paling usil pada masanya?
Sosok sahabat rasul ini adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat
Rasulullah SAW tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Sebab, Rasulullah
biasanya hanya melemparkan senyum pada orang-orang di sekitarnya.
Sahabat yang dimaksud di atas adalah Nu'aiman bin Ibnu Amr bin Raf'ah. Ia
adalah salah seorang sahabat dari kalangan Anshar yang juga termasuk dalam
kalangan ashabul badr. Sebab, Nu'aiman pernah turun berjihad bersama Rasulullah
saat Perang Badar.
Beberapa catatan sejarah menyebut, Rasulullah selalu tertawa dan gembira bila
berada di dekatnya.
Kisah ini diceritakan dari Ibnu Majah, bahwa suatu hari Nu'aiman pernah diajak
berdagang oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq bersama sahabat yang lain untuk pergi ke
negeri Syam (daerah maju pada masanya). Salah satunya ada Suwaibith bin
Harmalah.
Saat hari mulai menjelang siang, Nu'aiman yang sudah lapar menghampiri
Suwaibith yang saat itu ditugaskan untuk menjaga makanan. Suwaibith dengan
sikap penuh amanahnya tentu menolak saat Nu'aiman hendak meminta satu potong
roti untuknya.
Hingga Nu'aiman berkata, "Kalau memang begitu, artinya kamu setuju saya
buat ulah,"
Nu'aiman pun berjalan ke pasar dan mencari-cari wilayah yang menjual hamba
sahaya. Pada zaman nabi dulu, hamba sahaya biasanya dijual untuk menjadi
pekerja. Hingga kemudian Nu'aiman berkata kepada orang-orang di sana bahwa ia
memiliki hamba sahaya dengan harga yang sangat murah.
Nu'aiman juga menyebutkan, hamba sahaya yang dimilikinya hanya memiliki satu
kekurangan yakni berteriak bahwa dirinya orang yang merdeka bukanlah hamba
sahaya. Mendengar itu, orang-orang di sana pun tertarik dan Nu'aiman
mengajaknya mengadap Suwaibith.
"Itu ada orang yang berdiri sedang menjaga makanan, itu hamba sahaya
saya," kata Nu'aiman pada mereka. Mereka pun memberikan uang pada Nu'aiman
dan menghampiri Suwaibith untuk menangkapnya.
Suwaibith yang terkejut kemudian berkata, "Saya bukan hamba sahaya, saya
orang merdeka," yang hanya dibalas oleh orang-orang tersebut bahwa mereka
sudah tahu kekurangannya itu.
Selang berapa waktu, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun kembali dan mencari-cari
Suwaibith yang dijawab oleh Nu'aiman kemudian, "Sudah saya jual, wahai Abu
Bakar,"
Nu'aiman pun menceritakan dengan jujur apa yang terjadi pada Abu Bakar,
kemudian Suwaibith kembali ditebus oleh Abu Bakar dari orang-orang Syam itu.
Sampailah kisah tersebut ke telinga Rasulullah SAW. Kisah ini yang membuat
Rasulullah tertawa hingga menunjukkan gigi gerahamnya di depan para sahabat.
Perawi hadits mengatakan, bahkan setelah satu tahun berlalu, Rasulullah SAW pun
selalu menceritakan kisah Nu'aiman dan Suwaibith ini kepada para tamunya.
Part II
Kisah Nu'aiman dan
Hadiah Madu
Dikisahkan, sahabat nabi Nu'aiman melihat penjual madu yang kepanasan setelah berkeliling
menjajakan dagangannya. Namun sayangnya, tidak ada yang terjual. Nu'aiman
kemudian menghampir sang penjual madu tersebut dan mengajaknya ke kediaman
Rasulullah SAW
Ia hendak memberi hadiah kepada Rasulullah dengan madu tersebut. Nu'aiman pun meninggalkan
penjual madu tersebut setelah menitipkan beberapa pesan kepadanya,
"Aku akan pergi karena masih ada urusan. Sebentar lagi penghuni rumah itu
akan keluar dan membayar kepadamu harga madu itu,"
Lantas, sang penjual madu itu pun mengetuk rumah Rasulullah dan memberikan madu
tersebut kepadanya. Tentunya, Rasulullah merasa tersentuh dengan madu yang
dianggapnya adalah hadiah untuknya.
Hingga Rasulullah pun membagikan madu-madu itu kepada para sahabatnya yang
lain. Ketika beliau sedang membagikan madunya, sang penjual madu berteriak,
"Wahai Rasul! Bayarlah madu itu!"
Rasulullah yang mendengar itu sedikit terkejut dan langsung memahami situasi,
"Ini pasti perbuatan Nu'aiman," kata beliau sembari
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak lama setelah kejadian itu, Rasulullah pun
memanggil Nu'aiman untuk menemuinya. Beliau meminta penjelasan maksud di balik
perilaku dari Nu'aiman tersebut.
Namun, justru jawaban yang datang dari Nu'aiman lagi-lagi mengukirkan senyum di
wajah Rasulullah SAW. Nu'aiman berkata,
"Aku ingin berbuat baik kepadamu, Ya Rasul. Tapi aku tidak punya
apa-apa,"
Melalui cerita ini, Rasulullah SAW seakan memaklumu sifat Nu'aiman yang suka
mengusilinya, namun sesungguhnya memiliki hati yang baik.
Hal serupa juga pernah dikisahkan saat Rasulullah sedang duduk-duduk dengan
para sahabat. Nu'aiman membagikan sejumlah makanan pada mereka. Setelah makanan
tersebut habis disantap oleh Rasulullah dan yang lain, tiba-tiba Nu'aiman
berkata,
"Ya Rasulullah, ini penjualnya, tolong engkau yang bayar,
Rasulullah,"
Rasulullah yang mendengar itu pun bingung dan terkejut. Hingga pada akhirnya,
Rasulullah memakluminya dan mengajak para sahabat yang lain untuk ikut menebus
bersama makanan yang telah mereka santap tersebut.
Berdasarkan kisah-kisah di atas, dapat terlihat sisi kepribadian santai yang
dimiliki Rasulullah SAW. Sebab, tidak selamanya kehidupan beliau berjalan kaku
dan formal. Ada kalanya, kehidupan Rasulullah diwarnai dengan momen-momen
bahagia bersama dengan para sahabatnya. Wallahu a'lam (Alhusnayain.sch.id )
Thursday, 2 September 2021
DAKWAH ISLAM BUKAN PENISTAAN AGAMA
KHUTBAH I
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ,
وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا
وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا
فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ
اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى : أَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَوَيْلٌ
لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ
عِنْدِ اللّٰهَ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
(QS al-Baqarah [2]: 79)
Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Alhamdulillah, atas limpahan rahmat dan kasih sayang Allah sehingga di hari mulia ini kita
bisa berkumpul di tempat mulia ini, bersama orang-orang yang insyaallah
dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, melaksanakan kewajibannya shalat
Jumat berjamaah. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan oleh Allah
kepada junjungan alam Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Bertakwalah kepada Allah. Taatlah kepada Allah, laksanakan perintah-Nya dan
jauhi seluruh larangan-Nya, mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Allah
menghirup udara dunia. Ingatlah, hanya
di dunia ini kita berkesempatan mengumpulkan pahala melalui amal shalih. Yakni
amal yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah, baik yang tertulis dalam
Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan
bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Islam adalah agama dakwah. Ajaran Islam wajib
disampaikan kepada seluruh manusia, agar mereka tahu dan memeluk Islam. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اُدْعُ
اِلٰى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah
dan pengajaran yang baik serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih
baik (TQS an-Nahl [16]: 125).
Karenanya, siapa pun Muslim yang mendakwahkan
Islam sehingga orang meyakini Islam dan meninggalkan keyakinannya akan mendapatkan pahala besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَأَنْ يَهْدِي
اللهُ عَلَى يَدِك رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَك مِمّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشّمْسُ
أَوْ غَرَبَتْ
Sungguh Allah memberikan
hidayah kepada seseorang melalui dirimu adalah lebih baik daripada apa yang
diterangi oleh matahari atau ketika tenggelam (HR
ath-Thabarani).
Inilah yang mendorong kaum Muslim menyebarkan
risalah ke seluruh dunia.
Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Al-Qur’an mengandung seruan kepada pemeluk agama
lain agar masuk Islam sekaligus membantah keyakinan mereka. Ayat-ayat tersebut
menyeru akal manusia dengan membuktikan kebatilan agama mereka. Dakwah kepada
mereka dilakukan tanpa mencela atau menistakan agama mereka, namun dilakukan
dengan ilmiah, argumentatif dan menggugah akal (Lihat: QS an-Nahl [16]: 125).
Ketika berhadapan dengan para penyembah berhala,
Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan
ayat yang mengingatkan mereka akan lemahnya berhala dibandingkan dengan
kekuasaan-Nya:
إِنَّ
الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللّٰهَ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ
اجْتَمَعُوا لَهٗ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ
مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
Sungguh segala yang kalian seru selain Allah
sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu
menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka pun tak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat
lemah yang menyembah dan amat lemah (pula) yang disembah (TQS al-Hajj [22]: 73).
Ayat ini bukan menistakan keyakinan kaum
paganis, tetapi justru mengajak mereka untuk berpikir jernih apakah pantas
sesuatu yang lemah, tidak bisa menciptakan lalat, bahkan tidak bisa menjaga
sesuatu dari lalat, dijadikan tuhan oleh manusia. Padahal ada Allah Yang Maha
Pencipta yang telah menciptakan berbagai mahluk dari yang paling kecil hingga yang
paling besar, juga menciptakan alam semesta.
Saat berhadapan dengan kaum yang meyakini bahwa
Tuhan memiliki anak, ayat-ayat al-Qur’an mengajak mereka merenungkan keyakinan
mereka agar mereka memahami sendiri kebatilan akidah mereka (Lihat: QS
al-Mu’minun [23]: 91).
Allah subhanahu wa ta'ala pun membantah klaim kaum Nasrani yang menyatakan bahwa Isa bin Maryam
adalah anak tuhan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
لَقَدْ
كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ
الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
Sungguh
telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sungguh Allah ialah Al-Masih putra
Maryam.” Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah
Tuhanku dan Tuhan kalian.”
(TQS al-Maidah [5]: 72).
Bahkan Al-Qur’an membongkar
pemalsuan oleh orang-orang Bani Israil terhadap kitab-kitab suci mereka, Taurat
dan Injil, juga telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala:
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ
يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهَ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
Celakalah
orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian
berkata, “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah (TQS al-Baqarah [2]: 79).
Ketahuilah, apa yang
disampaikan al-Qur’an tentang pemalsuan ayat-ayat yang tercantum dalam
kitab-kitab kaum Yahudi dan Nasrani adalah fakta, bukan penistaan.
Belakangan, pada tahun
1994, di San Francisco, AS, terbit buku berjudul, The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? Buku ini adalah hasil seminar 76 orang pakar dari
berbagai disiplin ilmu yang meneliti keotentikan Injil. Mereka mendapati bahwa
82 persen isi kandungan injil sesungguhnya bukan berasal dari Yesus. Temuan ini
menguatkan firman Allah subhanahu wa ta'ala bahwa
telah terjadi perubahan ayat dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Sekali lagi, dakwah adalah
kewajiban. Harus dibedakan menyampaikan kebenaran Islam kepada umat di luar
Islam dengan menistakan agama atau keyakinan mereka. Sebab, menista agama umat
lain adalah haram. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللّٰهَ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ
عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
Janganlah
kalian memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti
akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan (TQS al-An’am [6]: 108).
Ketahuilah, bukan merupakan
penistaan agama ketika seorang Muslim menerangkan kebatilan dan kerusakan akidah
umat lain. Justru ini adalah kewajiban yang telah Allah tetapkan.
Haram hukumnya menyatakan
semua agama benar. Perhatikan peringatan para ulama: “Siapa saja yang tidak
mengkafirkan orang yang beragama selain Islam seperti Nasrani, atau meragukan
kekafiran mereka, atau membenarkan doktrin/ajaran mereka, maka dia telah kafir
meskipun bersamaan dengan itu dia menampakkan dirinya Islam dan meyakininya” (An-Nawawi, Rawdhah ath-Thalibin, 3/444).
Tidak boleh hukumnya
menyembunyikan kebenaran demi toleransi. Yang dilarang adalah memaksakan
keyakinan Islam kepada orang kafir.
Ingatlah, menganggap dakwah
Islam yang mengungkap kebatilan agama lain sebagai penistaan agama dan tindakan
kriminal sama dengan mengkriminalisasi ayat-ayat al-Qur’an. Na’udzubilLah min dzalik!
بَارَكَ الله لِي
وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ
الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى
اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ
فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ
النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ
اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
KHUTBAH JUMAT
DMDI (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
UMAT BANGKIT HANYA DENGAN ISLAM
KHUTBAH I
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ,
وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا
وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا
فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ
اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى : أَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي
السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ
عَدُوٌّ مُّبِينٌ
(QS al-Baqarah [2]: 208)
Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Alhamdulillah, atas limpahan rahmat dan kasih sayang Allah sehingga di hari mulia ini kita
bisa berkumpul di tempat mulia ini, bersama orang-orang yang insyaallah
dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, melaksanakan kewajibannya shalat
Jumat berjamaah. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan oleh Allah
kepada junjungan alam Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Bertakwalah kepada Allah. Taatlah kepada Allah, laksanakan perintah-Nya dan
jauhi seluruh larangan-Nya, mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Allah
menghirup udara dunia. Ingatlah, hanya
di dunia ini kita berkesempatan mengumpulkan pahala melalui amal shalih. Yakni
amal yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah, baik yang tertulis dalam
Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan
bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Umat Muslim pernah memiliki peradaban luhur dan
memimpin dunia. Tidak ada satu pun negeri yang penduduknya menerima dakwah Islam, melainkan
masyarakatnya akan berbondong-bondong memeluk Islam. Sepanjang sejarah
Kekhilafahan Islam, kaum Muslim pernah memimpin dua pertiga dunia; dari Afrika
hingga sebagian Eropa. Kaum Muslim, dengan Khilafahnya, pernah menciptakan
keadilan dan kemakmuran. Khilafah melebur umat manusia tanpa perbedaan suku
bangsa, jenis kelamin, ras dan bahasa. Umat non-Muslim pun mendapatkan keadilan
dan perlindungan.
Gambaran sejarah di atas kontras dengan keadaan
umat hari ini. Kaum Muslim terpuruk. Tidak mandiri dan didikte bangsa lain.
Meskipun mengklaim merdeka, realitanya mereka tak bisa menjalankan syariahnya
sendiri secara kaffah karena di bawah kendali asing.
Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Dulu, sebelum Islam datang, manusia berada dalam
kegelapan. Ada yang nenyembah berhala, praktik ekonomi ribawi dan curang dalam
perdagangan. Ada tradisi anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup oleh ayah
mereka. Kaum perempuan pun dihinakan. Pada saat yang sama, Kerajaan Romawi dan
Persia berkuasa dan menindas negeri-negeri yang mereka jajah.
Kedatangan Islam membawa perubahan besar. Islam
memuliakan manusia dan mengeluarkan mereka dari era jahiliyah menuju peradaban
mulia yang gemilang. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اللَّهُ
وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ
إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.
Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya (iman). Sebaliknya,
orang-orang kafir, para pelindung mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan
mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka
kekal di dalamnya (TQS al-Baqarah [2]:
257).
Di dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menguraikan
ayat ini, “Allah subhanahu wa ta'ala mengabarkan bahwa
Dialah Yang menunjukkan kepada siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya
jalan-jalan keselamatan. Ia mengeluarkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari
kegelapan kekufuran, keraguan dan kebimbangan menuju cahaya kebenaran yang
terang, gamblang mudah dan bercahaya.”
Cahaya Islam menghapus budaya penyembahan
manusia kepada makhluk, baik berupa berhala maupun sesama manusia seperti para
raja. Islam menghapus kekuasaan yang zalim lalu menggantikannya dengan keadilan
yang menciptakan rasa aman. Menghukum para pelaku kejahatan dengan
seadil-adilnya. Memberikan perlindungan dan kedudukan terhormat untuk kaum
perempuan. Islam bahkan menyuruh anak lelaki untuk memuliakan ibu kandungnya.
Islam berhasil mengubah bangsa Arab dan
bangsa-bangsa lainnya yang memeluk Islam menjadi umat manusia yang unggul.
Dengan melaksanakan syariah Islam di bawah naungan Khilafah, umat Islam
menebarkan rahmat dan memberikan banyak sumbangan untuk peradaban dunia.
Banyak karya ilmuwan Muslim dari berbagai
disiplin ilmu seperti matematika, kedokteran, kimia, farmasi, teknik, menjadi
dasar ilmu pengetahuan modern. Khilafah juga berkontribusi bagi kemanusiaan. Khilafah
membantu tiga kapal berisi makanan dan obat-obatan bagi rakyat Irlandia yang dilanda kelaparan.
Rakyat Amerika Serikat pada tahun 1889 juga pernah mendapatkan 1.000 US$ sebagai bantuan dari Khilafah dan
umat Muslim untuk korban banjir di Pennsylvania barat daya.
Di Nusantara, saat Perang Aceh, Khilafah
Utsmaniyah mengirimkan 17 kapal perang beserta prajurit dan persenjataan untuk
membantu pejuang Aceh melawan kolonial Belanda. Khilafah juga mengirim bantuan
untuk Batavia saat dihantam banjir di tahun 1916 sebesar 25 ribu kurush (koin
emas).
Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Pertanyaannya, apa kunci kebangkitan hingga bisa
seperti itu?
Tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan generasi awal kaum Muslim. Bukan dengan
mengikuti aturan yang disodorkan pihak asing. Imam Malik bin Anas rahimahulLah
menyatakan:
لَنْ
يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا
Tidak akan bisa memperbaiki kondisi generasi akhir
umat ini kecuali apa yang telah mampu memperbaiki kondisi generasi awal umat
ini.
Maknanya, umat Muslim dulu bisa menjadi baik dan
bangkit dengan Islam. Karena itu sekarang pun mereka hanya bisa baik dan
bangkit dengan Islam. Kunci kebangkitan yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada
umat manusia adalah membebaskan mereka dari penghambaan sesama menuju
penghambaan hanya pada Allah subhanahu wa ta'ala. Itulah yang disampaikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam surat yang ditujukan pada kaum
Nasrani Najran:
فَإِنِّي أَدْعُوكُمْ إِلىَ
عِبَادَةِ اللهِ مِن عِبَادَةِ الْعِبَاد، وَأَدْعُوكُم إِلىَ وِلاَيَةِ الله مِن
وِلاَيَةِ الْعِبَادِ
Sungguh aku menyeru kalian agar menghambakan diri
hanya kepada Allah dengan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia).
Aku pun menyeru kalian untuk berada dalam kekuasaan Allah dan tidak berada
dalam kekuasaan sesama hamba (manusia) (Ibn
Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, 5/553).
Islam berhasil menciptakan manusia merdeka dan
bangkit, yakni mereka yang tunduk dan menghambakan diri hanya pada Allah subhanahu wa ta'ala, Pencipta
segenap mahluk dan alam semesta, Tuhan yang layak disembah.
Ingatlah, kebangkitan bukanlah berlimpah materi
dan membangun gedung tinggi. Kebangkitan shahih bagi umat ini adalah
kemerdekaan untuk menjalankan syariah Allah subhanahu wa ta'ala secara total di semua bidang kehidupan.
Hanya dengan cara inilah umat akan mendapatkan kemajuan di segala bidang
sebagaimana yang diraih pada masa lampau. Inilah jalan Islam, jalan kebangkitan
hakiki!
بَارَكَ الله لِي
وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ
الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ
تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ
فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ
النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ
اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
KHUTBAH JUMAT
DMDI (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
Entri Populer
-
Di dunia ini begitu mudahnya kita mendapatkan pemimpin yang dikelilingi oleh para penjilat yang berprinsip ABS (Asal Bapak Senang). Seba...
-
Bila kita belajar dari Al Qur’an, kita akan menjumpai kisah para Nabi dan manusia-manusia suci yang penuh hikmat dan pelajaran. Mereka...
-
Mengenal Ummu Hamid Pada zaman Rasulullah SAW, begitu banyak Muslimah yang taat menjalankan ibadah. Salah satunya adalah Ummu Hamid,...
-
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: “ Apabila menghendaki kebaikan kepada-Nya, Allah menyegerakan hukuman bagi (hamba) t...
-
ISTIQAMAH MENGEMBAN KEBENARAN KHUTBAH PERTAMA إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ ب...
-
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا Barang sia...
-
KEMBALI KE STANDAR SYARIAH KHUTBAH I إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ...
-
Rasulullah bersabda, “Agama adalah nasihat”. Umat ini adalah umat paling mulia dari umat-umat yang lain karena mereka adalah umat dari nab...
-
Siti Hajar protes. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan Ismail anaknya yang masih kecil di padang pasir yang tak bertuan. Seperti jama...
-
“Bermegah-megahan (berbanyak-banyakan) telah melalaikan kamu.” QS. At-Tukatsur:1) Kita tidak asing dengan surat pendek tersebut, su...